A.
PENGERTIAN IMAN
Iman
berarti percaya, rukun iman itu ada enam, yaitu percaya kepada Allah, kepada
Malaikat-malaikat-Nya, kepada Kitab-kitab-Nya, kepada Rasu-rasul-Nya, kepada
Hari Akhir/Akhirat dan percaya kepada qadha dan qadar dari Allah.
Menurut
Imam Al Ghazali, yang dimaksud dengan pokok agama (iman) adalah sebagai
berikut:
1.
Iman kepada Allah yang Maha Esa.
2.
Iman kepada utusan-utusan-Nya.
3.
Iman kepada Hari Akhirat.
Iman
kepada Allah ialah kepercayaan yang mutlak mengakui adanya Allah yang telah
mengutus Utusan-utusan-Nya. Dalam kepercayaan ini harus mengandung tiga unsur,
yaitu:
1.
Diikrarkan/dinyatakan dengan lisan.
2.
Mengakui kebenaran di dalam hati,
dan
3.
Dilaksanakan dengan perbuatan anggota
badan.
Iman
adalah kepercayaan yang meresap ke dalam hati dengan penuh keyakinan, tidak
bercampur ragu, serta memberi pengaruh bagi pandangan hidup, tingkah laku dan
perbuatan pemiliknya sehari-hari (Yusuf Qardlawi, 1977:25).
Iman
terletak didalam hati sanubari. Iman adalah segala yang dibenarkan dalam hati,
diucapkan dengan lisan dan diamalkan itu sudah barang tentu adalah
seluruh ajaran islam. Jika seseorang sudah mengimani sluruh ajaran islam, maka
orang tersebut sudah dapat dikatakan mukmin.
Iman
itu terdiri atas tiga tingkatan :
1.
Tingkatan mengenal. Pada tingkatan
pertama ini seseorang baru mengenalssuatu yang diimani.
2.
Tingkat kesadaran. Pada tingkat
kedua ini iman seseorang sudah lebih tinggi, karena sesuatu yang diimani
disadari oeh alasan-alasan tertentu.
3.
Tingkat haqqul yaqin. Tingkat
ini adalah tingkatan iman yang tertinggi. Sseorang mengimani sesuatu tidak
hanya mengetahui dengan alasan-alasan tertentu, tetapi dibarengi dengan
ketaatan dan berserah diri kepada Allah
Hal
yang paling pokok dalam iman ialah percaya kepada Allah Yang Maha Esa dan
percaya kepada para Utusan-Nya yang membawa ajaran-ajaran, wahyu dan berita
dari Allah. Ini tercermin dalam lafaz syahadat yang pertama harus diucapkan
atau dinyatakan oleh seseorang yang masuk Islam. Hal ini pun sesuai dengan
Firman Allah sebagai berikut:
Sesungguhnya
orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada
Allah dan Rasul-Nya, Kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang
(berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka Itulah
orang-orang yang benar (QS.
Al Hujuraat: 15).
B.
PENGERTIAN ISLAM
Arti
kata islam itu ialah “tunduk” dan patuh kepada perintah orang yang memberi
perintah dan kepada larangannya tanpa membantah”. Agama kita telah diberi nama
Islam, karena ia berarti taat kepada Allah dan tunduk kepada perintah-Nya tanpa
membantah. Islam adalah agama yang mengajarkan agar manusia berserah diri dan
tunduk sepenuhnya kepada Allah.
Nabi
Muhammad saw bersabda :
Islam
itu ialah engkau menyembah Allah (menghambakan diri kepada-Nya, Dia sendiri
saja), tiada engkau persekutukan Dia dengan suatu yang lain, engkau dirikan
sembahyang, engkau keluarkan zakat yang difardukan, engkau berpuasa dibulan
Ramadhan, dan engkau tunaikan ibadah haji jika engkau sanggup pergi ke
Baitullah. (H.R.
Bukhari)
Ajaran
islam memang harus diyakini kebenaranya. Allah swt. telah menjamin kebenaran
tersebut sebagaimana firman-Nya :
Sesungguhnya
agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam……(Q.S. Ali Imran : 19)
Segala
sesuatu yang ada di dalam alam ini, tunduk kepada suatu peraturan tertentu dan
kepada undang-undang tertentu. Matahari, bulan dan bintang-bintang semua tunduk
kepada suatu peraturan yang tetap, tidak dapat bergeser atau menyeleweng dari
padanya meskipun seujung rambut.
C.
PENGERTIAN IHSAN
Ihsan
artinya berbuat baik. Ihsan adalah berbakti dan mengabdikan diri kepada Allah
swt. Dengan dilandasi kesadaran dan keikhlasan. Berbakti kepada Allah yakni
berbuat sesuatu yang bermanfaat, baik untuk diri sendiri, sesama manusia,
maupun untuk makhluk lain. Semua perbuatan itu dilakukan semata-mata karena
Allah swt, seolah-olah orang yang melakukan perbuatan itu sedang berhadapan
dengan Allah.
Ihsan
ada empat macam, yaitu :
1.
Ihsan terhadap Allah,
yakni menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya
2.
Ihsan terhadap diri
sendiri, yakni mengerjakan segala sesuatu yang mendatangkan kebaikan bagi diri
sndiri dan menghindari semua perbuatan yang mendatangkan kecelakaan atau
kerugian kepada diri sendiri
3.
Ihsan terhadap sesama
manusia, yakni berbuat baik kepada saudara, tetangga, kerabat, maupun seagama
4.
Ihsan terhadap makhluk
lain (alam lingkungan), yakni berbuat baik atau memelihara alam lingkungan agar
tetap lestari dan tidak punah.
Iman
yang kuat, akan mengokohkan islam yang ada dijiwa dan akan melahirkan perbuatan
ihsan yang langsung terpancar dari Nur Ilahi.
D.
HUBUNGAN IMAN, ISLAM, DAN IHSAN
Hubungan
iman, islam, dan ihsan bagaikan segitiga sama sisi. Hubungan antara sisi yang
satu dengan sisi yang lainnya sangat erat. Jadi orang yang taqwa ibarat
segitiga sama sisi, yang sisi-sisinya adalah iman, islam, dan ihsan. Segitiga
tersebut tidak akan terbentuk jika ketiga sisinya tidak saling mengait.
Iman
itu membentuk jiwa dan watak manusia menjadi kuat dan positif, yang akan
mengejawantah dan diwujudkan dalam bentuk perbuatan dan tingkah laku akhlakiah
manusia sehari-hari adalah didasari/diwarnai oleh apa yang dipercayainya. Kalau
kepercayaannya benar dan baik pula perbuatannya, dan begitu pula sebaliknya.
Iman
yang tertanam di dada memberi inspirasi positif kepada seseorang untuk berlaku
dan beramal shaleh. Iman yang benar membawa pribadi ke arah perubahan jiwa dan
cara berpikir positif. Perubahan jiwa tersebut merupakan suatu revolusi dan
pembeharuan tentang tujuan hidup, pandangan hidup, cita-cita, keinginan-keinginan
dan kebiasaan (Yusuf Qadlawi, 1977: 251).
Melakukan
pembaruan jiwa, mengubah pandangan dan semangat adalah hal yang berat dan
sulit, karena di dalam diri manusia terdapat berbagai keadaan dan sifat. Nafsu
dan syahwat adalah dua kekuatan yang cendrung mendorong ke arah perbuatan
negatif, menyimpang dari akal sehat dan syari’at agama. Al-Qur’an membenarkan
hal itu.[1]
Keimanan
kepada keesaan Allah itu merupakan hubungan yang semulia-mulianya antara
manusia dengan penciptanya. Oleh karena itu, mendapatkan petunjuk sehingga
menjadi orang yang beriman, adalah kenikmatan terbesar yang dimiliki oleh
seseorang. Keimanan itu bukanlah semata-mata ucapan yang keluar dari bibir dan
lidah saja atau semacam keyakinan dalam hati saja. Tetapi keimanan yang sebenar-benarnya
adalah merupakan suatu akidah atau kepercayaan yang memenuhi seluruh isi hati
nurani, dari situ timbul bekas-bekas atau kesan-kesannya, seperti cahaya yang
disorotkan oleh matahari.
Salah
satu kesan dari iman ialah apabila Allah dan Rasul-Nya dirasakan lebih dicintai
olehnya dari segala sesuatu yang ada. Hal ini wajib ditampakkan, baik dalam
ucapan, perbuatan dan segala gerak-geriknya dalam pergaulan maupun sewaktu
sendirian.
Dalam
Al Qur’an, iman itu selalu dikaitkan dengan amal perbuatan baik sebagai syarat
bahwa iman yang disempurnakan dengan amal baik berupa pelaksanaan rukun-rukun
Islam, akan menyebabkan manusia hidup berbahagia di dunia dan di akhiratnya. Di
antaranya dalam Al Qur’an Allah berfirman sebagai berikut:
Sesungguhnya
orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka adalah surga Firdaus
menjadi tempat tinggal, Mereka kekal di dalamnya, mereka tidak ingin berpindah
dari padanya
(QS. Al kahfi: 107-108)
Dari
ayat ini nampak jelas bahwa iman yang dapat membawa ke arah kebahagian adalah
yang disertai dengan amal perbuatan yang baik.[2]
Iman
adalah landasan tempat berpijak atau sebagai tali yang menjadi tempat
bergantungnya dalam kehidupan ini. Lebih jelas lagi adalah ibarat yang
diberikan oleh S. Abul ‘Ala Al Maududi tentang iman, bahwa iman itu
laksana/ibarat urat (akar) dalam kehidupan tumbuh-tumbuhan. Dia menyatakan:
“Hubungan antara Islam dengan iman adalah laksana hubungan antara pohon dengan
uratnya, demikian pulalah, mustahil seseorang bisa menjadi muslim tanpa
mempunyai iman.
Disamping
adanya hubungan antara iman, islam, dan ihsan, juga terdapat perbedaan antara
ketiganya sekaligus merupakan ciri masing-masing. Iman lebih menekankan pada
segi keyakinan didalam hati, islam merupakan sikap untuk berbuat atau beramal.
Sedangka ihsan merupakan pernyataan dalam bentuk tindakan nyata. Ihsan
merupakan ukuran tipis tebalnya iman dan islam seseorang.[3]
E.
NALURI BERAGAMA
Islam
adalah Agama alam semesta, karena Islam maknanya ialah berserah diri dan patuh
kepada perintah yang memberi perintah dan larangannya tanpa membantah. Jadi,
matahari, bulan dan bumi adalah Muslim. Udara, air, cahaya, gelap dan panas
adalah Muslim. Pohon, kayu, batu dan binatang adalah Muslim. Bahkan manusia
yang tidak mengenal Tuhannya, ingkar kepada-Nya, menolak ayat-ayat-Nya, atau
menyembah yang lain dari pada-Nya dan menyekutukan-Nya Dia dengan sesuatu,
adalah Muslim karena fitrahnya yang ia diciptakan menurut fitrah itu.
Yang
demikian itu adalah karena ia tidak dilahirkan, tidak hidup dan tidak mati
kecuali menurut undang-undang yang diciptakan Allah untuk kelahirannya,
hidupnya dan matinya. Begitu juga seluruh anggota badannya semata-mata tunduk
kepada Agama Islam, karena ia tidak tumbuh, tidak menjadi besar dan tidak
bergerak kecuali menurut undang-undang Allah ini sendiri.
Bahkan
pada hakikatnya lidahnya yang dipergunakan untuk melahirkan faham-faham syirik
dan kufurnya, karena kebodohannya dan kedangkalan pikirannya, tidak tunduk
kecuali kepada Agama Islam. Begitu juga kepalanya yang memaksanya untuk membungkuk
di hadapan yang lain dari pada Allah, tidaklah tunduk kecuali kepada agama
Islam, dengan kemudi fitrahnya yang ia telah diciptakan menurut fitrah itu.
Begitu juga hatinya yang menyuruhnya untuk mencintai yang lain dari pada Allah
dan memujanya karena kebodohannya dan kedangkalan pikirannya, semata-mata
adalah Muslim juga, karena fitrahnya dan nalurinya. Semua mereka telah berserah
diri kepada Allah dan patuh kepada undang-undang-Nya.
Dalam
surat al-a’raf ayat 172 Allah berfirman :
Dan
(ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi
mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman):
"Bukankah aku ini Tuhanmu?" mereka menjawab: "Betul (Engkau
Tuban kami), Kami menjadi saksi". (kami lakukan yang demikian itu) agar di
hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah
orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)",
Dalam
ayat tersebut telah diinformasikan bahwa manusia telah berikrar kepada Allah
sebelum ia dilahirkan. Dari sini kita ketahui bahwa manusia yang lahir telah
dibekali tauhid kepada Allah Sang Pencipta.
Setelah
lahir keadaan sekitar sang bayilah yang kemudian mempunyai pengaruh besar
terhadap akidah sang anak, secara umum lingkungan sang anak, dan orangtua bayi
khususnya. Nabi Muhammad saw bersabda “ Setiap manusia dilahirkan dalam
keadaan fitrah, kedua orang tuanyalah yang menyebabkan anak itu menjadi Yahudi,
Nasrani, atau Majusi.[4]
Manusia
di dalam kehidupannya mempunyai dua segi yang berlain-lainan:
1.
Pertama, ia tunduk kepada undang-undang
fitrah dan mematuhinya karena nalurinya. Ia adalah seorang Muslim yang telah
dicetak menurut Islam dan diciptakan untuk memikul tanggung jawab terhadapnya,
sebagaimana makhluk-makhluk yang lain di dalam alam ini.
2.
Kedua, ia telah dikaruniai akal, daya
untuk memahami, memperhatikan dan menentukan pendapat. Maka ia dapat menerima
sesuatu dan menolak yang lain, menyukai sesuatu jalan dan membenci yang lain
dan menciptakan dari dirinya sendiri sesuatu kaedah untuk berbagai-bagai segi
kehidupan atau menerima sesuatu sistem kehidupan yang diciptakan oleh orang
lain. Jadi ia tidak terikat oleh dunia ini, tetapi ia telah diberi kemerdekaan
berpikir dan kemerdekaan menentukan pilihannya mengenai pendiriannya dan
perbuatannya. Ia adalah bebas untuk menentukan pilihannya, apakah ia hendak
menjadi seorang Muslim atau bukan Muslim.
Salah
satu fitrah manusia, ialah taat kepada-Nya seperti alam yang lain. Maka anda
lihat ia taat kepada-Nya siang dan malam tanpa disadarinya. Yang demikian itu
adalah karena mustahil bagi manusia akan tetap tinggal hidup, apabila ia
menyalahi undang-undang alam.
Manusia
tidak dipaksa untuk mengikuti suatu jalan yang tertentu di dalam ujian ini.
Jika kiranya ia dipaksa, niscaya batallah tujuan dari ujian itu. Yang demikian
itu adalah suatu perkara yang terang tidak ada keragu-raguan dalam memahaminya.
Ada
seorang yang tidak mengetahui fitrah dirinya sendiri dan fitrah alam ini, yang
salah dalam mengenal khaliknya dan sifat-sifat yang dimiliki-Nya, yang memilih
jalan maksiat dan khianat dan yang tidak pandai mengambil mamfaat dari
kemerdekaan yang diberikan kepadanya di dalam kehendaknya. Maka adalah ia
seorang gagal senyata-nyatanya di dalam ujian ilmunya dan akalnya, kekuatannya dalam
memperbedakan antara yang buruk dan yang baik dan kesadarannya akan rasa
tanggung jawabnya. Ia menjadi saksi terhadap dirinya sendiri, bahwa ia adalah
salah seorang di antara orang-orang yang paling rendah di dalam segala segi.
Dan
ada seseorang yang lain telah lulus dalam ujian ini. Ia telah memperkerjakan
pikirannya dan mengambil manfaat dari ilmu dan akal yang ada padanya
sebesar-besarnya. Ia mengenal khaliknya dan beriman kepada-Nya, meskipun ia
tidak dipaksa untuk yang demikian itu. Begitu juga ia tidak keliru dalam
membedakan antara yang buruk dan yang baik, dan memilih yang baik dengan
pikirannya yang bebas. Yang demikian itu adalah karena ia telah mempergunakan
akalnya dengan baik.
Manusia
itu terbagi menjadi empat golongan dipandang dari segi kedua dasar ini: Iman
dan Islam:
a.
Orang-orang yang beriman
kepada Allah dengan iman yang menjadikan mereka taat kepada Allah, patuh kepada
hukum-hukum-Nya dengan sepenuhnya, berhati-hati terhadap apa yang dilarang oleh
Allah seperti orang berhati-hati memegang bara yang menyala di tangannya dan
bersegera mengerjakan amal yang diridhoi Allah sebagaimana orang bersegera
mencari harta. Mereka itulah orang-orang Mu’minin yang sejati.
b.
Orang-orang yang beriman
kepada Allah, tetapi iman mereka tidak menjadikan mereka taat kepada-Nya, patuh
kepada hukum-hukum-Nya dengan sepenuhnya. Meskipun iman mereka belum mencapai
derajat kesempurnaan, tetapi bagaimanapun juga mereka adalah orang-orang
Muslimin.
c.
Orang-orang yang tidak
beriman kepada Allah, tetapi mereka melakukan pekerjaan-pekerjaan orang-orang
Islam. Mereka pada hakikatnya adalah kaum pendurhaka. Adapun
perbuatan-perbuatan mereka yang terlihat baik pada lahirnya bukanlah suatu
ketaatan kepada Allah dan bukan pula suatu kepatuhan kepada undang-undang-Nya.
d.
Orang-orang yang tidak
beriman kepada Allah, dan juga melakukan perbuatan-perbuatan yang buruk yang
bertentangan dengan hukum-hukum dan undang-undang-Nya.
Ternyata
dari pembagian ini, bahwa keberuntungan (sukses) manusia dan kebahagiannya di
dunia dan di akhirat tergantung kepada iman. Islam tidak lahir dengan sempurna
atau kurang sempurna kecuali dari benih iman. Di mana tidak ada iman di sana
ada kufur. Kufur itu adalah lawan Islam, yakni pembangkangan terhadap perintah Allah
Swt, dengan berbagai-bagai tingkatannya.[5]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar